Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Bank Indonesia mengatakan rasio utang luar negeri (ULN) Indonesia masih aman yakni sebesar 34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut merupakan gabungan antara utang luar negeri pemerintah, korporasi, dan perbankan.

Lagi pula, setiap perusahaan yang ingin melakukan pinjaman luar negeri juga diharuskan memiliki rasio keuangan yang sehat.

“Perusahaan juga harus memiliki risk management tools bila mau mencari utang dari luar negeri,” ungkap Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, dalam jumpa pers di Gedung Bank Indonesia di Jakarta, Kamis 17 Januari 2019.

Menurut dia Indonesia saat ini tidak bisa hidup tanpa mengandalkan utang luar negeri. Pasalnya, dana dalam negeri tidak mencukupi untuk mendanai sejumlah proyek pemerintah termasuk aksi korporasi.

“Jawabnya enggak bisa, karena dana di dalam enggak cukup,” ujarnya.

Di samping itu, peminjaman utang luar negeri oleh korporasi harus melalui izin bank sentral dan pemerintah. Mereka wajib melakukan hedging dan mendapat rating minimal triple b minus (BB-) untuk menerbitkan surat utang.

“Kita enggak boleh gegabah maka dari itu bank sentral mengamati sudah punya tools bank kalau mau pinjam dari LN pasti harus izin BI dan pemerintah,” pungkasnya.

Adapun utang luar negeri Indonesia pada akhir November 2018 mencapai USD372,9 miliar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp14.100 per USD maka posisi ULN Indonesia setara dengan Rp5.257 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD183,5 miliar, dan utang swasta termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar USD189,3 miliar.

(AHL)