Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Angka neraca perdagangan di 2018 terbilang negatif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai defisit pada kategori ini mencapai USD8,57 miliar.

“Neraca perdagangan 2018 sebesar USD8,57 miliar. Kalau kita lacak hasil ini terutama defisit migas,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di gedung BPS, Jalan dr. Sutomo, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019.

Laporan defisit neraca perdagangan 2018 menjadi yang terdalam dalam kurun lima tahun terakhir. Bahkan, neraca dagang sejak 2015, 2016, hingga 2017 pernah mencetak nilai surplus masing-masing USD7,67 miliar, USD9,48 miliar dan USD11,84 miliar.

“Kita mempunyai pekerjaan rumah bagaimana harus menggerakkan ekspor sehingga neraca perdagangan meningkat,” ujarnya.

Nilai defisit neraca perdagangan sektor migas dipengaruhi hasil ekspor sebesar USD17.404,9 juta dan impor sebesar USD29.808,7 juta. Artinya, sepanjang 2018 terjadi ketidakseimbangan perdagangan dengan selisih ekspor-impor mencapai minus USD12.403,8 juta.

Suhariyanto memaparkan kondisi ini perlu dicermati agar pemerintah bisa menjalankan strategi peningkatan nilai ekspor. Pasalnya, tantangan semakin berat saat dihadapkan dengan kondisi perekonomian global.

“Prediksi lembaga internasional pertumbuhan ekonomi global tidak menggembirakan,” ucapnya.

(AHL)