Jakarta: Tahun ini perekonomian global diprediksi masih tetap suram. Bank Dunia bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,9 persen lebih lambat daripada tahun lalu yang mencapai tiga persen.

Namun, dalam laporan Bank Dunia yang bertajuk Darkening Skies, merujuk dari situasi ekonomi dunia akibat perang dagang, lembaga keuangan dunia itu melihat perekonomian Indonesia tetap tumbuh kendati tidak terlampau signifikan. Dalam laporan tersebut disebutkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia merangkak naik selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2016, misalnya, ekonomi Indonesia ada di angka lima persen, lalu terus tumbuh menjadi 5,1 persen, dan menjadi 5,2 persen di 2018.

Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di angka 5,2 persen. Angka itu memang lebih rendah daripada yang dipatok di APBN 2019 sebesar 5,3 persen.

Namun, jika melihat laporan tersebut, kondisi perekonomian sejumlah negara lain justru jauh lebih buruk. Turki, misalnya, pertumbuhan ekonominya terjun bebas dari 7,4 persen di 2017 menjadi 3,5 persen di 2018, dan diprediksi anjlok ke 1,6 persen tahun ini. Begitu pula Malaysia yang secara perlahan stagnan dan diprediksi terus menurun dari 4,7 persen ke 4,6 persen hingga 2021.

‘Darkening Skies menyorot betapa rawannya juncture (titik krusial) ekonomi terkini. Singkatnya, pertumbuhan telah melemah, ketegangan dagang masih tinggi, beberapa ekonomi negara berkembang mengalami stres finansial, dan outlook risiko telah bertambah’, tulis laporan itu.

“Namun, Asia Timur dan Pasifik tetap jadi salah satu daerah berkembang tercepat di dunia,” kata Kepala Eksekutif Bank Dunia, Kristalina Georgieva, dalam peluncuran laporan tersebut.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, meski perang dagang telah berdampak pada lalu lintas perdagangan global, terutama manufaktur, belum tentu membuat rupiah melemah. Sebab, kata dia, di tengah perekonomian AS dan dunia yang melambat (akibat perang dagang), The Fed (bank sentral AS) tentu akan berpikir ulang untuk terus menaikkan suku bunga.

“Ini akan membuat tekanan di negara emerging market, termasuk Indonesia, semakin berkurang,” tegas Nanang.

(AHL)