Jakarta: Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Capres-Cawapres nomor urut 01, Arif Budimanta, mengatakan Jokowi-Ma’ruf Amin memiliki misi agar masyarakat Indonesia bisa keluar dari middle income trap atau perangkap pendapatan menengah dalam jangka waktu 10 hingga 15 tahun mendatang. 

Misi ini, dikatakan Arif sebagai salah satu cara untuk menuju ‘Indonesia Maju’ yang menjadi tagline pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. 

“Dalam lima tahun pertama diharapkan masuk ke dalam upper middle income. Untuk dapat masuk ke dalam upper middle income, diperlukan lapangan pekerjaan yang berkualitas,” kata Arif, dalam diskusi bertajuk ‘Menanti Asa Perekonomian Dua Calon Pasangan Pemimpin’. di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, 16 Januari 2019.

Menurutnya agar lapangan kerja tersedia pemerintah telah melakukan penyederhanaan perizinan dan pembangunan infrastruktur, baik dari segi fisik, komunikasi, maupun energi agar dapat mengundang masuknya investasi. Dengan demikian, kegiatan industri dapat berjalan. 

Selain itu, Jokowi-Ma’ruf juga akan fokus pada peningkatan kualitas SDM sehingga upah pekerja dapat lebih baik. “Jika upah lebih baik, masyarakat bisa menabung dan punya daya beli yang tinggi. Akhirnya akan membuat struktur perekonomian menjadi kokoh dan maju,” kata Arif.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan persentase penduduk miskin Indonesia terus menurun. Catatan terakhir, profil kemiskinan berada pada angka 9,66 persen. Kepala BPS Suhariyanto memaparkan penduduk miskin 9,66 persen tersebut merupakan hasil survei resmi untuk periode September 2018. 

Selisih penurunan tercatat 0,16 persen poin terhadap Maret 2018 dan menurun 0,46 persen poin terhadap September 2017.  Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 7,02 persen, turun menjadi 6,89 persen pada September 2018. 

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2018 sebesar 13,20 persen, turun menjadi 13,10 persen pada September 2018. 

Dibandingkan dengan Maret 2018 jumlah penduduk miskin September 2018 di daerah perkotaan turun sebanyak 13,1 ribu orang. Jumlah tersebut mengurangi penduduk miskin dari 10,14 juta orang pada Maret 2018 menjadi 10,13 juta orang pada September 2018. 

Lebih lanjut, garis kemiskinan pada September 2018 tercatat sebesar Rp410.670 per kapita per bulan. Nilai tersebut setara dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp302.022 (73,54 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp108.648 (26,46 persen). 

(ABD)