Jakarta: Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi USD372,9 miliar per akhir November 2018 atau setara Rp5.220 triliun dengan asumsi kurs Rp14.000 per USD. Utang Luar Negeri (ULN) itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD183,5 miliar serta utang swasta termasuk BUMN USD189,3 miliar.

Mengutip Antara, di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2019, disebutkan jika dibandingkan Oktober 2018, utang asing Indonesia naik USD12,3 miliar. Pertumbuhannya secara tahunan pun meningkat pada November 2018, karena pada Oktober 2018, hanya bertumbuh 5,3 persen (yoy).

Bank Indonesia menilai struktur utang masih berkategori sehat. Parameternya adalah rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap di 34 persen. “Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers atau negara dengan kapasitas ekonomi serupa,” tulis BI.

Selain itu, struktur ULN Indonesia didominasi ULN berjangka panjang dengan porsi 84,8 persen dari total ULN. Secara rinci, dalam ULN Indonesia, ULN pemerintah adalah sebesar USD180,5 miliar atau tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy) pada akhir November 2018.

Posisi ULN pemerintah tersebut bertambah sebesar USD5,1 miliar dibandingkan dengan posisi Oktober 2018 karena masuknya dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBSN) domestik selama November 2018.

Sementara ULN swasta pada November 2018 naik 10,1 persen (yoy). ULN swasta pada November 2018 tersebut bertambah USD7,1 miliar dibandingkan dengan Oktober 2018 karena sebagian besar didorong masuknya dana ke surat utang korporasi.

(ABD)