Jakarta: Pemerintah akan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan yang sudah diterbitkan agar pelebaran defisit neraca perdagangan tidak terjadi lagi di masa depan. Upaya menekan defisit tersebut menjadi penting karena bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Setiap saat kami evaluasi efektivitas kebijakan ekspor dan upaya mengendalikan impor,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019.

Sri Mulyani mengatakan berbagai upaya untuk mendorong ekspor nonmigas dan mengurangi impor migas sudah dilakukan pemerintah. Kebijakan yang dilakukan ialah memperbaiki iklim investasi untuk mendorong modal masuk ke industri berbasis ekspor dan subtitusi impor.

Selain itu, mewajibkan pemanfaatan biodiesel (B20) untuk mengurangi impor solar serta menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) impor untuk barang-barang mewah. Sri Mulyani memastikan kebijakan tersebut sudah mulai memperlihatkan hasil karena pelaku industri mulai memakai bahan bakar biodiesel.

“Berdasarkan statistik, sejak penggunaan B20, hampir semua impor minyak terutama diesel menurun,” tuturnya.

Kenaikan tarif PPh impor ikut menurunkan impor barang jadi sebesar 12,9 persen diikuti barang mewah 15,4 persen, meski barang konsumsi masih naik sebesar 0,5 persen. Meski demikian, ia mengakui, impor migas masih cukup tinggi sehingga menjadi salah satu penyebab utama defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 mencapai USD8,57 miliar.

“Kita lihat beberapa langkah yang sudah dilakukan memberikan dampak, tapi impor masih cukup besar, seperti minyak,” ujar Sri Mulyani, seraya menambahkan bahwa evaluasi ini dilakukan termasuk kemungkinan penggunaan instrumen fiskal agar ekspor produk manufaktur meningkat dan negara tujuan dagang makin bertambah.

(ABD)